Dikes Ungkap Fakta Kasus Malaria di Gorontalo, Banyak Warga Terpapar Saat Bekerja di Luar Daerah

Dikes Ungkap Fakta Kasus Malaria di Gorontalo, Banyak Warga Terpapar Saat Bekerja di Luar Daerah

Lebih dari 300 Kasus Malaria Tercatat di Kota Gorontalo, Mayoritas Ternyata Kasus Impor-jcomp-Freepik

GORONTALO, DISWAY.ID - Kota GORONTALO masih menghadapi tantangan dalam upaya pengendalian penyakit GORONTALO.disway.id/listtag/4766/malaria">malaria, meskipun berbagai langkah pencegahan dan penanganan terus dilakukan secara berkelanjutan.

Berdasarkan hasil evaluasi terbaru yang dilakukan Dinas Kesehatan (Dikes) Kota Gorontalo bersama Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo, tercatat lebih dari 300 kasus malaria di wilayah kota. Namun, mayoritas kasus tersebut dikategorikan sebagai kasus impor.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2PL) Dikes Kota Gorontalo, Harson Ahudulu, menjelaskan bahwa sebagian besar penderita malaria merupakan warga yang sebelumnya bekerja atau beraktivitas di luar daerah Kota Gorontalo.

"Kasus malaria yang tercatat di Kota Gorontalo umumnya berasal dari warga yang bekerja di daerah lain seperti Kabupaten Pohuwato, Boalemo, dan Gorontalo Utara. Meski mereka menjalani pengobatan di Kota Gorontalo, aktivitas sebelum sakit dilakukan di luar wilayah kota,” jelas Harson, dikutip dari laman RRI.

BACA JUGA:Aksi Pencurian Kotak Amal Terungkap, Polda Gorontalo Bergerak Cepat Amankan Pelaku

Banyak Pasien Terpapar Saat Bekerja di Luar Daerah

Selain wilayah sekitar Gorontalo, Dikes Kota Gorontalo juga mencatat sejumlah kasus malaria yang berasal dari warga yang bekerja di luar Pulau Sulawesi, khususnya di Papua, daerah yang dikenal sebagai wilayah endemis malaria.

“Ada beberapa pasien yang berdomisili di Kota Gorontalo, tetapi bekerja di Papua. Saat mengalami gejala malaria, mereka kembali ke Gorontalo untuk berobat,” tambah Harson.

Kondisi ini memperkuat kesimpulan bahwa sebagian besar kasus malaria di Kota Gorontalo bukan berasal dari penularan lokal, melainkan dibawa dari daerah dengan tingkat endemisitas tinggi.

Musim Hujan dan Banjir Perparah Risiko Malaria

Faktor lingkungan juga berperan besar dalam meningkatnya risiko penyebaran malaria. Menurut Harson, perubahan musim, terutama saat curah hujan tinggi, sering kali diikuti dengan peningkatan kasus malaria.

“Hujan deras menyebabkan munculnya banyak genangan air yang menjadi tempat ideal bagi nyamuk Anopheles berkembang biak,” jelasnya.

Selain itu, bencana banjir turut memperparah kondisi lingkungan. Genangan air pascabanjir dapat memperluas habitat nyamuk pembawa malaria, sehingga meningkatkan risiko penularan penyakit di masyarakat.

BACA JUGA:Hilirisasi Ayam Terintegrasi Dikebut! Gusnar Ismail dan Satgas Nasional Cek Kesiapan Lahan

Peran Masyarakat Jadi Kunci Pencegahan

Harson menegaskan bahwa kesadaran masyarakat dan kerja sama lintas sektor menjadi kunci utama dalam menekan angka kasus malaria. Ia mengimbau warga untuk aktif menjaga kebersihan lingkungan dengan menutup tempat penampungan air, membersihkan genangan, serta menggunakan kelambu dan obat anti-nyamuk sebagai langkah pencegahan sederhana namun efektif.

Di sisi lain, Dinas Kesehatan Kota Gorontalo terus melakukan pengawasan ketat, termasuk pemberian obat pencegahan bagi kelompok masyarakat yang berisiko tinggi terpapar malaria.

Sumber: